Agar pantun tetap lestari para komunitas menjalin komunikasi erat. Rapat-rapat dan berbalas pantun via Zoom yang marak era Covid-19. Terjadwalkan seminar nasional dengan tema perlunya hari pantun nasional. ATL Kalbar ambil peranan. Bertindak sebagai tuan rumah. Sukses.
Narasumber ATL Pusat, Riau, Kepri, Betawi, Medan, dan Kalbar aktif meruahkan ide dan gagasan.
Direkomendasikan lah tanggal 17 Desember sebagai Hari Pantun Nasional. Momentum perjuangan komunitas ATL yang diakui lembaga kebudayaan PBB. Bukan tanggal lahir atau wafatnya seseorang tokoh seperti Raja Ali Haji dll seperti Hari Puisi mengambil hari lahir Chairil Anwar.
Hari Pantun Nasional enaknya disingkat apa ya? Floor merujuk akronim HPN. Namun kurang sedap didengar. Sama saja dengan Hari Pangan Nasional.
Harpanas? Tak elok, sastra lisan yang lembut, jenaka, penuh nasihat sopan-santun disebut “panas”.
Nah, sosok pemantun perempuan dengan lembut uluk saran Hartunas. “Tunas melambangkan kehidupan. Bernyawa. Bertumbuh. Potensial membesar dan produktif menghasilkan buah.” Dialah Ketua Ombudsman Kalbar yang akrab disapa Mak Keribang, Dr Cand Tariah, SH.I. MH. Floor setuju. Dan sejak saat itu Hari Pantun Nasional akrab disapa Hartunas.
Sudah cukup? Tidak. Tunas itu bertumbuh.
(Bersambung)
