in

Sultan Hamid – Turki dan Cengkeram Pita Bhinneka Tunggal Ika yang Bisa Kita Baca dalam Konteks Indonesia dan Dunia

New Picture 1 1

Roosandra Dian Alqadrie

Ini sudah masanya Allah SWT memperlihatkan ikatannya yang saling berkaitan satu dengan lainnya dari suatu peristiwa di negeri ini dan merambah hingga ke dunia internasional.

Sebenarnya ada keterkaitan lainnya yang mesti ditulis juga.
Bukan kah saat yang bersamaan dari keluarnya video penghinaan terhadap Sultan Hamid II yang dilakukan oleh Hendropriyono, mengingatkan kita kepada merebaknya kasus rencana undang undang HIP ?

Ingat RUU HIP, mengingatkan kita kepada tri sila yang dapat direduksi lagi menjadi eka sila.

Ingat eka sila, mengingatkan kita kepada Sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang akan berubah menjadi Ketuhanan Yang Berkebudayaan.

Ingat semboyan Ketuhanan yang berkebudayaan, akan mengingatkan kita kepada hancurnya semboyan Bhinneka tunggal Ika.

Ingat kehancuran semboyan Bhinneka tunggal Ika, akan mengingatkan kepada kita cengkraman jari jari kaki lambang Garuda Pancasila yang memegang pita merah putih bersemboyankan Bhinneka tunggal Ika.

Ingat pita merah putih bersemboyan negara yang dicengkram jari jari kaki Garuda Pancasila, akan mengingatkan kepada kita sejarah lama saat Bung Karno meminta penciptanya, Sultan Hamid II, mengubah cara Garuda dari memegang menjadi mencengkram pita semboyan negara itu.

Ingat perubahan cara Garuda mencengkram ke bawah pita merah putih semboyan negara, akan mengingatkan kita kepada Burung Elang Garuda Pancasila yang memegang ke atas pita merah putih bersemboyang Bhinneka Tunggal Ika.

Baca Juga:  Menjaga Asa Literasi

Ingat Burung Elang Garuda Pancasila yang memegang ke atas pita merah putih bersemboyang Bhinneka Tunggal Ika, akan mengingatkan kita kepada pernyataan perancang lambang negara bahwa jika pita semboyan negara dicengkram ke bawah maka setiap saat cengkraman itu bisa saja terlepas.

Ingat cengkraman Bhineka tunggal Ika lepas, akan mengingatkan kita kepada negara besar Uni Soviet yang akhirnya keunitariannya terhempaskan ke permukaan bumi menjadi negara negara kecil yang berdiri sendiri.

Ingat negara negara pecahan negara besar Uni Soviet, akan mengingatkan kepada kita salah satu negara Islam dari pecahan itu merupakan negara asal leluhur dari ibu Sultan Hamid II.

Ingat leluhur ibu Sultan Hamid II, akan mengingatkan kita kepada sebuah buku sejarah terbitan pemerintah daerah yang mengatakan ibunya adalah salah satu cucu dari Sultan Turki.

Ingat Sultan Turki yang baru baru ini dihidupkan kembali, akan mengingatkan kita kepada Sultan Pertama dari negeri Umayyah, yaitu Sultan Muhammad AlFatih.
Ingat Sultan Muhammad AlFatih, akan mengingatkan kita kepada kebersihan mata batinnya yang tajam untuk membeli gereja katedral dari pimpinan gereja orthodok pada tahun 1453 dan mewakafkannya untuk negara menjadi mesjid Hagiah Sophia secara resmi bukan hasil rampasan perang dengan uang pribadinya bukan dengan uang negara ataupun uang badan Amil Zakat.

Baca Juga:  Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Kalimantan Barat Buka Peluang Kerjasama dengan Politeknik Negeri Pontianak

Ingat mesjid Hagiah Sophiah, akan mengingatkan kita kepada kebangkitan kembali marwah dan identitas bangsa Turki di mata dunia.

Ingat marwah dan identitas bangsa Turki yang kembali tegak berdiri, mengingatkan kita kepada semangat generasi awal para pendiri negara RI yang berusaha keras mengedepankan semboyan negara Indonesia, yang berbhineka tunggal ika untuk tetap berdiri kokoh sebagai Marwah dan identitas bangsa ini.

Ingat semboyan negara Indonesia, yang berbhineka tunggal ika untuk tetap berdiri kokoh sebagai Marwah dan identitas bangsa ini, akan mengingatkan kita kepada pandangan kedepan dan mata batin Sultan Hamid II yang jernih untuk merancang lambang negara dengan sepenuh jiwa, fikiran dan biaya yang tak sedikit dari apa apa yang dimilikinya untuk negara, bukan apa apa yang negara beri untuk dirinya.
Ingat mata batin Sultan Hamid II dalam rancangan lambang negara, akan mengingatkan kita kepada posisi Garuda memegang ke atas semboyan negara berbhineka tunggal Ika, bukan mencengkram ke bawah.…

Written by teraju.id

WhatsApp Image 2020 07 19 at 11.03.24

Sastrawan Besar Indonesia–Sapardi Djoko Damono–Wafat: Ia Pernah ke Pontianak–Puisinya Sering Dibacakan dalam Aneka Lomba

WhatsApp Image 2020 07 19 at 19.06.29

Besok, LP2M dan Rumah Literasi FUAD IAIN Pontianak Gelar Kegiatan Launching Buku dan Seminar Keragaman