Namun, tak ada yang benar-benar memberitahu saya utuk bersiap akan keindahan Hutan Mangrove di Desa Pasir. Pemandangannya bagaikan diambil dari film fantasi. Kami berjalan di atas jembatan kayu di bawah kanopi akar hijau zamrud yang saling bertaut. Pemandu kami dengan sabar menjawab semua pertanyaan saya. Saya belajar bahwa akar mangrove ini adalah “pahlawan super” yang melindungi pantai dari badai dan menjadi rumah aman bagi ikan-ikan kecil. Lebih menginspirasi lagi, masyarakat setempat begitu aktif menjaga kelestarian tempat berharga ini. Seolah pas dengan momen, matahari mulai terbenam, melukis langit dengan warna oranye dan merah muda yang megah di atas permukaan air. Saya hanya bisa berdiri terpukau menyaksikan keindahannya.

Malam harinya, kami menghadiri Upacara Adat Toana di Istana Amantubillah, kediaman Raja Mempawah saat ini. Rangkaian ritual yang begitu detail, busana tradisional, serta rasa hormat yang begitu kental, semuanya sangat berbeda dari budaya saya. Itu adalah momen langka di mana saya merasa beruntung bisa menyaksikan sesuatu yang begitu sakral dan istimewa.
