Di hari terakhir, kami bangun sebelum fajar untuk mengikuti sebuah Saprahan pagi, duduk bersila di lantai sambil menikmati hidangan lezat bersama istri Gubernur sekaligus Bupati Mempawah, Ibu Erlina. Beliau begitu menginspirasi, berbagi cerita tentang berbagai program pengabdian masyarakatnya dan memberikan nasihat berharga bagi kami yang masih muda.
Setelah itu, kami sepenuhnya tenggelam dalam kemeriahan Festival Robo-Robo, sebuah perayaan besar untuk mengenang kedatangan Opu Daeng Manambon berabad-abad lalu. Para penari tampil memukau, tetapi pertunjukan marching band sungguh luar biasa—bunyi genderang begitu kuat hingga terasa bergetar di dada.
Sore harinya, setelah berpamitan dengan Pak Ismail selaku Sekda Mempawah dan juga dengan Pak El Zuratnam, kami menutup perjalanan dengan bermain di Pasar Malam Kuale Mempawah. Kami berburu barang thrifting, mencoba wahana karnaval, dan entah bagaimana saya memenangkan gayung air serta boneka dinosaurus (hadiah terbaik, tentu saja). Kami menutup hari di rumah hantu yang justru begitu tidak menyeramkan, hingga berubah menjadi bagian paling lucu dari perjalanan ini—saya sampai tertawa terbahak-bahak sampai meneteskan air mata.
