Pembebasan lahan pun dilakukan untuk menambah kapasitas tanah milik pesantren. Bangunan pun didirikan mulai dari kolam ikan, asrama santri, rumah ustadz serta jeding dan WC umum.
“Pesantren ini sudah menghabiskan kurang lebih 200 juta, dan masih kurang sekitar 600 juta lagi untuk pembangunan asrama putri, aula dan sebagainya,” ungkap pria kelahiran Sungai Raya tersebut.
Saat ini kegiatan pendidikan yang sudah berjalan adalah Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) yang isinya masih anak-anak tetangga sekitar. Waktu belajarnya ialah pada sore hari ba’da Asar hingga Maghrib.
Selain itu, ia juga membentuk jam’iyah pengajian bersama para asatidz muda di kampung tersebut yang diberi nama Tanbihul Ghofilin, yang isinya adalah anak-anak muda.
“Mereka diajak untuk mengisi hari-hari besar islam dan kegiatan keagamaan serta membuat kegiatan rutin sholawatan setiap malam senin,” ujar ustadz Ali.
“Alhamdulillah berawal dari keinginan untuk menanam durian kemudian membangun mushalla hingga akhirnya seperti ini, mohon do’anya semoga semua dilancarkan,” imbuhnya. (Penulis peserta Kampung Riset 2020*)
