Bila kita melihat keberagaman masyarakat hilir Sungai Kapuas rasa-rasanya belum puas kalau belum berinteraksi dengan mereka yang kendati punk, buruh, atau penambang sampan, ternyata baik-baik. Jauh dari kesan “Yuka kampungnya para preman”. Datang ke Yuka justru menyenangkan. Di bantaran Kapuas kita bisa melihat pemandangan indah, bahkan berenang.
Sungai Kapuas meskipun tidak jauh berhadapan langsung dengan laut lepas, tetapi kondisi air tidak terasa asin sehingga membuat anak-anak leluasa mengekspresikan semua kepandaiannya bermain di dalam air.
Pepatah Pontianak memang mengajarkan, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Selama kearifan lokal ini kita praktikkan, harmoni hidup selalu terpelihara.
Kalau saya tidak berinteraksi dengan masyarakat Yuka, melakukan verifikasi, yang saya tahu adalah hal-hal negatif. Ini tak ubahnya kabar palsu alias hoaks. Hoaks ini yang kini menjadi penyakit kronis di negeri ini. Padahal obatnya ada di kampung halaman sendiri: ingat pepatah, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Kita mesti hadir dan mengalir bersama-sama. Hidup dalam kebersamaan. *
