Artinya tanpa ganggu APBN, ummat bisa saling bantu sesamanya. Cukup. Apalagi kalo APBN turun, lewat kartu miskin, kartu Indonesia sehat dan kartu-kartu yang lain. Kemiskinan bisa selesai. Semua anak bangsa bisa hidup cukup.
Ini konsep pengelolaan dalam standard ekosistem masyarakat kaum muslimin : TIDAK BOLEH ADA YANG HIDUP KEKURANGAN.
Walau mereka ndablek
Walau mereka gak makan sekolahan
Walau mereka memang gak punya pekerjaan karena gak punya kompetensi.
Mengapa? Karena mereka masih manusia. Maka dalam Islam perlu dijaga kehidupannya. Bisa makan, bisa bernaung dalam sebuah hunian, punya pakaian, dan siapapun yang mau sekolah bisa sekolah. Siapapun yang sakit bisa terlayani. Cukup.
Di titik kebutuhan dasar ini, konsep Islam bukan kompetisi mekanisme pasar :
“Salah sendiri gak bisa makan, gak bisa kerja sih, ndablek, males, gak guna, salah sendiri, laper”
Islam gak kenal narasi iblis begini. Karena seseorang masuk golongan miskin bisa saja karena memang rantai siklusnya sudah turunan.
Lahir di keluarga miskin
Akhirnya kurang gizi
Otak gak berkembang maksimal
Akses pendidikan gak ada
Pembekalan kompetensi gak ada
Akhirnya bergaul dan hidup dididik di jalanan
Akhirnya berandalan dan miskin lagi
Maka Islam bergerak dalam kerangka “social lifting”. Posisi sosial ummat harus diangkat harkat dan derajatnya dengan mencukupi kebutuhan dasarnya.
