in

Arahan Langit

potensi zakat


By kang Rendy Saputra

Definisi hidup layak itu sebenarnya sederhana. Jika ngikut standard dunia, cukup makan, ada pakaian, punya hunian, lalu bisa akses pendidikan dan akses layanan kesehatan. Jika kelima parameter tadi terpenuhi, berarti hidup sudah layak.

Di dalam Islam batas ini disebut batas kecukupan. Dalam ekosistem kaum muslim, tidak boleh ada yang hidup dibawahnya.

Tidak boleh ada yang sampai gak bisa makan.
Tidak boleh ada yang sampai gak punya hunian, gak punya pakaian.
Tidak boleh ada yang sampai gak bisa sekolah, lalu tak terlayani jika sakit.

Maka kalo ada kaum muslimin hidup dibawah garis cukup, walau ada pekerjaannya, maka dana zakat wajib cover kebutuhan mereka hingga cukup. Namanya golongan kaum miskin.

Kalo blass banget gak punya kerja dan gak punya apa-apa, masuk golongan fuqoro, faqir. Berhak juga dapat zakat.

Maka jika ada 10 juta faqir miskin, agar bisa makan support bahan pokoknya 500 ribu sebulan, ketemu angka 5 triliun. Untuk 12 bulan berarti tembus 60T.

60 T untuk cover 10 jt kaum miskin
120 T untuk cover 20 jt orang miskin

Potensi zakat sudah dihitung Baznas melalui data kementerian keuangan, dana zakat ummat ini jika ditarik semua, disiplin, taat, ketemu angka 217 T.

Artinya tanpa ganggu APBN, ummat bisa saling bantu sesamanya. Cukup. Apalagi kalo APBN turun, lewat kartu miskin, kartu Indonesia sehat dan kartu-kartu yang lain. Kemiskinan bisa selesai. Semua anak bangsa bisa hidup cukup.

Ini konsep pengelolaan dalam standard ekosistem masyarakat kaum muslimin : TIDAK BOLEH ADA YANG HIDUP KEKURANGAN.

Walau mereka ndablek
Walau mereka gak makan sekolahan
Walau mereka memang gak punya pekerjaan karena gak punya kompetensi.

Mengapa? Karena mereka masih manusia. Maka dalam Islam perlu dijaga kehidupannya. Bisa makan, bisa bernaung dalam sebuah hunian, punya pakaian, dan siapapun yang mau sekolah bisa sekolah. Siapapun yang sakit bisa terlayani. Cukup.

Baca Juga:  Sinergi Kegiatan BPDASHL Kapuas

Di titik kebutuhan dasar ini, konsep Islam bukan kompetisi mekanisme pasar :

“Salah sendiri gak bisa makan, gak bisa kerja sih, ndablek, males, gak guna, salah sendiri, laper”

Islam gak kenal narasi iblis begini. Karena seseorang masuk golongan miskin bisa saja karena memang rantai siklusnya sudah turunan.

Lahir di keluarga miskin
Akhirnya kurang gizi
Otak gak berkembang maksimal
Akses pendidikan gak ada
Pembekalan kompetensi gak ada
Akhirnya bergaul dan hidup dididik di jalanan
Akhirnya berandalan dan miskin lagi

Maka Islam bergerak dalam kerangka “social lifting”. Posisi sosial ummat harus diangkat harkat dan derajatnya dengan mencukupi kebutuhan dasarnya.

Harus bisa makan agar punya asupan gizi, bisa mikir tenang, bisa taklim di masjid, bisa memperbaiki diri.

Harus punya hunian biar gak berserakan di jalanan. Entah dibangun Flat wakaf, entah dibangun rusunami dari negara, entah dipinjamkan rumah-rumah kosong gak gak tersewa. Intinya punya tempat bernaung dari panas dan dinginnya malam.

Harus punya pakaian yang cukup. Mudah aja kalo ini. Dana zakat belikan pakaian yang cukup. Bisa dipakai sepanjang tahun.

Kalo mau sekolah, anak-anak dari keluarga miskin tinggal masuk Kuttab, tinggal masuk Madrasah, gratis. Gedung sekolahnya wakaf sehingga gak perlu ada uang gedung. Operasional gaji guru dan pengadaan kitab dari lahan wakaf wakaf produktif milik masjid, sehingga gak perlu ada SPP.

Cukup 100.000 titik masjid, setiap tahun buka 50 kursi per angkatan, sudah cover 5 juta seat belajar, untuk 5 juta anak yang dilahirkan pertahun di Negeri ini. Sangat mungkin.

Baca Juga:  Dari Rusen Dengan Gunta Wirawan

Kalo sakit, tersedia rumah sakit wakaf. Gedungnya wakaf, alat kesehatannya wakaf, operasional SDM nakes dari aliran wakaf produktif milik masjid. Jadi biaya rumah sakit gak dibebankan ke orang sakit. Malah kaum miskin yang sakit harusnya dikasih uang karena gak bisa kerja saat rawat inap.

Sekolah berbayar halal, sah, boleh. Rumah sakit berbayar halal, sah, boleh. Tetapi kalo semuanya harus bayar, berarti pendidikan itu bukan hak, tapi kekhususan untuk yang punya saja. Berarti orang miskin gak boleh sakit. Aneh bener kalo semua harus bayar.

Maka konsep ini harus jadi konsep dalam hati. Ia adalah bukti iman. Yang gak mau ngasih makan orang miskin itu pendusta agama. Lihat surah Al Ma’un.

Jadi jangan alergi lagi, bantu saudara kita faqir miskin untuk hidup cukup.

Saudara kita faqir miskin gak minta barang branded, gak minta gadget mahal, gak minta rumah mewah, gak minta mobil mewah, mereka gak minta vacation atau staycation, gak minta nonton konser, gak… gak sama sekali.

Mereka cuma harus kita bantu untuk hidup standard. Hidup pada batas kecukupannya. Penuhi dulu kebutuhan dasar pangan, papan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Selebihnya silakan kompetisi untuk mendapatkan lebih.

Hari ini, di negeri dengan populasi kaum muslimin terbesar dunia, saudara-saudara kita harus perlu kerja serabutan hingga berdarah-darah untuk sekedar makan. Padahal kucing saja kita rawat jika terlihat gak punya majikan, kenapa manusia malah kota cuekin?

Konsep ini di negara maju jalan. Ada konsep universal basic income. Ada konsep bantuan pemerintah langsung untuk citizen, warga negara yang sudah 17 tahun. Ada tunjangan dasar dari negara. Paling dekat ya Australia. Sila tanya sama diaspora yang ada disana, gimana negaranya bayarin para pengangguran tiap bulan.

Baca Juga:  Seharian Bersama Abroorza A.Yusra

Kenapa?

Agar di negaranya gak ada yang homeless, gak ada berserakan di jalan. Mereka dikasih uang agar tetap bisa sewa flat. Sewa hunian.

Agar gak ada yang sampai ngorek ngorek sampah untuk makan. Maka mereka dapat tunjangan agar bisa hidup cukup untuk beli makanan.

Itu negara Australia gak pake Islam, gak pake syariat, kaum musliminnya minoritas, tapi jalanin konsep zakat.

Maka kembali ke negeri ini, kita perlu bersama-sama membangun ekosistem yang fair untuk setiap warga negara kita. Bagi aktivis dakwah masjid berarti harus menjaga setiap jamaahnya.

Gak boleh ada yang lapar
Gak boleh ada yang ngegelandang di jalan
Gak boleh ada yang gak punya baju
Gak boleh ada yang gak bisa sekolah
Gak boleh ada yang sakit, terus dibiarin mati di jalanan.

Kita harus menggerakkan asset tidur untuk bekerja menjadi asset bersama. Gerakkan menjadi asset wakaf yang dikelola ummat. Sehingga gak ada gedung-gedung kosong, sementara generasi kita butuh sekolah dan gedung rumah sakit.

Cek “Barang Milik Negara” yang gak tergunakan dengan baik. Cek lahan-lahan tidur yang didiamkan hanya untuk investasi. Cek rumah-rumah kosong milik orang kaya yang didiamkan atas nama investasi. Semua asset negeri ini harus bekerja untuk memback up kebutuhan faqir miskin.

Potensi zakat 217 triliun, tapi 2019 baznas hanya catat raihan zakat 10T dari berbagai entitas UPZ yang ada. Masih jauh dari potensi.

Masjid masih numpuk saldo. Jamaah disekitaran masjid masih tidak difikirkan nasibnya. Kaum muslimin masih senang hidup mikirin diri sendiri.

PR kita masih banyak.

URS – Work for Ummah

Written by teraju.id

bentuk perisai

Dua Perisai Pancasila dan Makna Pindahnya Ibukota ke Jantung Kalimantan

wakaf

Wakaf Uang Potensial Himpun Dana Triliunan dan Punya Andil Signifikan Menyelesaikan Banyak Persoalan