Mendengar cerita sosok Fir’aun yang kekuasaannya sangat sangat besar, merasa menguasai segalanya, berbuat semaunya, kejam menindas rakyat, sombong dan angkuh, bahkan memproklamirkan dirinya sebagai Tuhan. dia menyatakan:
انا ربكم الأعلى
“Akulah Tuhan yang paling Tinggi”.
Ternyata, ketika sudah sampai waktunya, dia terbujur kaku, tak lebih dari bongkahan batu dan mumi tak bisa berbuat apa-apa lagi, sekedar pajangan bahan tontonan, tapi bisa menjadi tuntunan bagi mereka yang mau menjadikan sebagai ayat dan ibrah (pelajaran dan hikmah).
Ketika berkuasa biasa-biasa saja, jangan berlebihan, apalagi berlebih-lebihan, seolah-olah kekuasaan itu segala-galanya.
Fir’aun saja dengan segala kebesaran dan kekuasaannya hampir tak terbatas, ketika tibat waktunya pada hari Asyura, 10 Muharram Fir’aun ditenggelamkan di laut, segalanya berakhir.
Hanya kepada Allah Sumber dan Pemilik keselamatan kita mengadu dan mengharap sepenuhnya.
حسبنا الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير
Hasbuna Allah wa Ni’ma al-Wakil Ni’ma al-Maula wa Ni’ma an-Nashir.
(Cukuplah bagi kami, Allah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik penolong).
Pontianak, 10 Muharram 1442 H/29 Agustus 2020
