Buku tentang CU yang ketiga ini, CU Betang Asih, yang tumbuh subur di habitatnya, di antara suku Dayak Ngaju dan Maanyan. Saya menajdi Penerbit, sekaligus editornya.
Dengan omset di atas 1 T, CU tak syak adalah plesetan “orang miskin (dahulunya para pengurus dan anggota demikian) menolong orang kaya” karena bunga pinjaman jauh lebih ringan daripada bunga bank. Meski sebenarnya, asas CU “Kamu tolong saya, saya tolong kamu; kita saling tolong”.
*
TESIS saya adalah: CU/ koperasi akan tumbuh subur, di tempat orang saling percaya dan bisa bekerja sama. Di sana ada agaliter. Dayak, sebagai suku bangsa yang egaliter, tidak mengenal adanya kerajaan, feodal. Namun, dari historinya, suku bangsa yang stammenrasnya 7 dengan hampir 500 subsuku ini, saling kayau. Ada 5 motivasi, salah satunya mempertahankan klan/ wilayah. Namun, taktik SALT STARVATION kompeni Hindia Belanda, mencoba menyatukan mereka di Tumbang Anoi Mei-Agustus 1894. Setelah satu, baru dikuasai, namun gagal. Alih-alih saling kayau, suku Dayak sepakat menghentikan 3-H + 1-J (hakayau, habunu, hatetek + jipen (perbudakan).
CU membuktikan. Financial literacy, pendidikan dari segi apa pun, bisa dilakukan untuk memberdayakan dan memajukan orang Dayak. Asalkan: tulus.
Dan matarantai/ lingkaran setan kemiskinan bagai pendarahan itu terbukti bisa diputus. Salah satunya: melalui CU dan gerakan ekonomi kerakyatannya.
