Orang tua kemudian kembali dilema bagaimana menyiasati pandemi yang belum mau pergi. Kata beberapa tetangga yang anaknya baru di sekolah dasar, jangan-jangan anak-anak sudah lupa bagaimana cara membaca. Kelamaan tidak sekolah. Jangankan orang tua yang tak selesai sekolah dasar, orang tua yang sudah selesai sarjana saja kelimpungan. Anak-anak kadung terlena lama sering ngumpul bareng teman-teman.
Di luar sana, warung kopi, cafe-cafe, dan tempat kumpul lainnya sudah ramai.
Protokol kesehatan dipatuhi? Silahkan cek sendiri ke lokasi. Nanti pada saatnya ada tema pandemi yang semakin menjadi, yang hobi ngumpul di sana-sini paling nyaring berbunyi. Dilema menghadapi pandemi, itu yang terjadi.
Semoga saja kondisi ini akan segera normal kembali. Miris melihat anak-anak usia sekolah dasar dan anak-anak tanggung yang sudah berambut pirang. Miris melihat anak-anak semakin lengket dengan gawai yang jadi media utama dalam menghadapi sekolah yang tak kunjung buka kembali. Anak-anak sudah rindu berseragam sekolah lagi. Tapi apa ini yang kata Bang Haji Rhoma: Kalau sudah tiada baru terasa.
Saat sekolah ditutup sekian lama, baru terasa betapa pentingnya lembaga pendidikan untuk anak-anak kita. Semoga dan semoga pandemi segera pergi. Amin…
