in

Dilema Menghadapi Pandemi

19 copy


Oleh: Ambaryani

Bukan perkara mudah bagi kami orang tua maupun anak-anak saat menghadapi pandemi yang belum mau pergi. Kondisi seakan semakin mencekam. Banyak tenaga medis yang sudah tumbang, banyak juga fasilitas kesehatan yang satu-persatu tutup menyusul sekolah yang hingga kini belum kembali dibuka.

Anak-anak semakin liar menggunakan gawai. Karena kesempatan memegang gawai kini semakin lebar. Semua pembelajaran melalui gawai. Kami orang tua juga semakin khawatir mereka akan kecanduan dan susah dihentikan.

Saat ini waktu anak-anak katanya benar-benar di rumah saja. Nyatanya anak-anak tetaplah anak-anak. Yang tak bisa diam di rumah saja. Mereka tetap keluyuran bersama teman sepermainan. Anak-anak tanggung lebih lagi, kumpul sana kumpul sini karena banyak waktu luangnya.

Anak-anak dikunci di rumah? Bayangkan saja apa jadinya?

Terlebih orang tua sudah harus kembali aktif bekerja sementara anak-anak full di rumah saja katanya. Kadang agar anak tak ‘terlalu’ banyak waktu kluyurannya harus dibawa ke tempat kerja agar otang tua dapat mengalihkan pergaulan anak-anaknya. Walaupun benar, ini besar resikonya. Tapi ancaman pergaulan nyatanya juga sama besarnya. Kami khawatir anak-anak kebablasan.

Baca Juga:  Seharian Bersama Abroorza A.Yusra

Orang tua kemudian kembali dilema bagaimana menyiasati pandemi yang belum mau pergi. Kata beberapa tetangga yang anaknya baru di sekolah dasar, jangan-jangan anak-anak sudah lupa bagaimana cara membaca. Kelamaan tidak sekolah. Jangankan orang tua yang tak selesai sekolah dasar, orang tua yang sudah selesai sarjana saja kelimpungan. Anak-anak kadung terlena lama sering ngumpul bareng teman-teman.
Di luar sana, warung kopi, cafe-cafe, dan tempat kumpul lainnya sudah ramai.

Protokol kesehatan dipatuhi? Silahkan cek sendiri ke lokasi. Nanti pada saatnya ada tema pandemi yang semakin menjadi, yang hobi ngumpul di sana-sini paling nyaring berbunyi. Dilema menghadapi pandemi, itu yang terjadi.

Semoga saja kondisi ini akan segera normal kembali. Miris melihat anak-anak usia sekolah dasar dan anak-anak tanggung yang sudah berambut pirang. Miris melihat anak-anak semakin lengket dengan gawai yang jadi media utama dalam menghadapi sekolah yang tak kunjung buka kembali. Anak-anak sudah rindu berseragam sekolah lagi. Tapi apa ini yang kata Bang Haji Rhoma: Kalau sudah tiada baru terasa.

Baca Juga:  Pertama Kali Idul Fitri di Luar Sintang

Saat sekolah ditutup sekian lama, baru terasa betapa pentingnya lembaga pendidikan untuk anak-anak kita. Semoga dan semoga pandemi segera pergi. Amin…

Written by Ambaryani

Ambaryani, Pegawai Pemerintahan Kabupaten Kubu Raya. Lulusan Program Studi Komunikasi STAIN Pontianak. Buku berjudul; 1. Pesona Kubu Raya 2. Kubu 360 adalah buku yang ditulisnya selama menjadi ASN Kabupaten Kubu Raya

sutarmidji sy abdullah alkadrie.1

Pertengahan Tahun Depan, Pembebasan Lahan Jembatan Kapuas III Selesai

Mahfud MD

Bersama Prof Mahfud