Dari sini kita menyimpulkan bahwa siswa yang membakar piagam-piagamnya tersebut tidak mampu mengendalikan emosi yang ada pada dirinya sehingga ia pun melakukan hal seperti itu sebagai pelampiasan depresi yang dialaminya.
Selain dari kasus membakar piagam tadi, apakah ada contoh lain yang mencerminkan rendahnya EQ seseorang? Jawabannya, ada. Saya akan memberikan sebuah contoh yang biasa terjadi di sekolah, salah satunya adalah bully.
Mungkin beberapa di antara kita saat duduk di bangku sekolah pernah menjadi seseorang yang membully atau yang dibully. Saat kita membully seseorang, pernahkah terpikir dalam benak kita bahwasanya apa yang di rasakan orang yang kita bully tersebut? Apakah diri kita belum bisa memahami akan rasa sakit yang mungkin ia rasakan hingga menimbulkan luka yang sulit untuk disembuhkan di hati dan fisiknya terlepas apakah kita membullynya dengak kekerasan fisik atau dengan hinaan dan cacian yang meninggalkan goresan di hatinya.
Pernahkah kalian berpikir bahwa orang yang senantiasa diintimidasi di sekolahnya mungkin ia akan mencari jalan keluar seperti pindah sekolah atau semacamnya, lalu bagaimana jika ia bertindak lebih jauh sehingga ia melakukan hal yang diluar ekspetasi kita. Apa itu? Bunuh diri, misalnya.
