Oleh: Muhammad Rifqi*
Pernahkah kalian mendengar berita tentang seorang siswa yang membakar piagam-piagam yang ia miliki hanya karena ia tidak bisa masuk ke sekolah favorit dengan faktor sistem zonasi yang diterapkan oleh pemerintah sejak beberapa tahun terakhir?
Saya termasuk orang yang menyayangkan kenapa hal tersebut sampai terjadi. Dalam tulisan ini saya akan menguraikan kenapa siswa tersebut bisa bertindak demikian dengan tinjauan pendekatan EQ atau Emotional Quotient.
Terlepas dari berbagai opini yang bertebaran di masyarakat mengenai sistem zonasi untuk masuk sekolah formal, saya termasuk orang yang netral dan tidak mempermasalahkan sama sekali akan hal ini.
Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, kenapa seorang siswa tersebut sampai membakar piagam-piagam yang dimilikinya hanya karena ia tidak dapat masuk ke sekolah impiannya? Bukankan siswa tersebut adalah siswa yang cerdas? Bukankah piagam-piagam tersebut telah menjadi bukti bahwasanya ia telah meraih berbagai prestasi?
Yap, siswa tersebut memang seorang siswa yang cerdas. Akan tetpai kecerdasannya hanya pada Intelligence Quotient atau IQ nya. Siswa tersebut belum meraih tingkat tinggi pada Emotional Quotient atau EQ.
Apa itu Emotional Quotient (Kecerdasan Emosional) atau EQ? seperti yang dilansir dari Wikipedia, Emotional Quotient atau EQ adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya.
