Menulis buku ini membuat Saya harus menjadi aktor. Kenapa aktor? Karena ada bagian-bagian di mana Saya harus mengenang masa lalu dan merasakan harus emosi saat itu. Dalam sebuah penulisan, penulis harus memikirkan bagaimana caranya pembaca merasakan apa yang penulis rasakan. Nah, maka dari itu, kita tidak semabarang menulis, kita juga harus merasakan apa yang kita rasakan saat itu, lalu menulis. Hal itu bisa dikatakan bahasa kerennya “feel-nya ngena’. Dampaknya nanti, ketika kisahnya sedih, maka kemungkinan pembaca akan merasa sedih juga. Bahkan ketika menulis buku ini, Saya juga merasa sedih.
Ketika menulis buku Jomblo Nomaden ini, Saya harus berperang melawan rasa malas Saya. Akhirnya, yang awalnya Saya merasa malas, menjadi tidak malas lagi dan buku ini pun selesai.
Ada hal yang juga penting untuk Saya bahas, yaitu tentang sampul buku ini. Sampul buku ini merupakan desain ke-5 yang dibuat oleh Saya sendiri. Foto Saya yang sedang membawa sarung itu terinspirasi oleh bukunya Raditya Dika yang berjudul koala kumal. Saya rasa foto Saya itu cocok dengan judul buku Saya.
