in

Kesan di Balik Penulisan Buku “Mengukir Kisah di Desa Sengkubang”

WhatsApp Image 2020 07 15 at 13.37.14

Oleh: Nurul Istiqomah

Setelah sekian lama hanya bisa membaca hasil karya dari para penulis terkenal, akhirnya saya membuat buku. Meski hasil tulisan saya masih sangat sederhana, tetapi saya merasa sangat bersyukur karena bisa mengetahui bagaimana rasanya menciptakan sebuah buku. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa saya saat ini bisa membuat sebuah buku. Dulu saya selalu bertanya-tanya bagaimana membuat tulisan yang baik. Setiap saya menanyakan hal itu, jawabannya selalu sama. Tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai. Sebagus apapun tulisan, jika tidak diselesaikan tentu tidak akan menjadi sebuah karya. Melalui program Rumah Literasi di Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) IAIN Pontianak, saya mendapatkan bimbingan sehingga bisa menghasilkan sebuah buku.

Di awal proses penulisan, saya merasa kesulitan untuk mengembangkan ide. Rasanya kosa kata yang saya miliki sangat sedikit sehingga sulit sekali untuk menuangkan ide-ide tersebut ke dalam sebuah tulisan. Saya berpikir bagaimana mungkin bisa menulis sebanyak 15.000 kata sedangkan untuk menulis sebanyak 2.000 kata saja sudah menghabiskan waktu berhari-hari. Tetapi setelah saya mencoba untuk fokus dan membiasakan diri dalam menulis, saya baru menyadari bahwa menulis tidak sesulit yang dibayangkan sebelumnya. Bahkan saya berhasil menulis sebanyak 17.000 kata.

Baca Juga:  Suara Petani - Suara Rakyat

Buku autobiografi yang berjudul “Mengukir Kisah di Desa Sengkubang” ini menceritakan beberapa peristiwa yang saya alami selama menuntut ilmu, mulai dari kecil hingga menjadi mahasiswa.

Awalnya saya menjadikan proses menulis ini sebagai sebuah beban di tengah tugas-tugas kuliah yang menumpuk, itulah kenapa saya benar-benar harus mengerahkan seluruh tenaga untuk dapat menulis beberapa ribu kata. Setelah melihat teman saya yang hampir mencapai tahap akhir, saya berpikir jika dia bisa lantas apa yang menghalangi saya dalam menulis. Saya pun mencoba untuk mengubah pola pikir. Menulis itu menyenangkan dan bukan sebuah beban. Saat saya sudah bisa memfokuskan diri dalam penulisan buku ini, saya begitu menikmati dan merasa seperti sedang menyaksikan kisah perjalanan hidup saya. Tanpa sadar saya sudah berada di akhir penulisan.

Setelah beberapa bulan Bu Ninda membimbing saya dalam proses penulisan, selanjutnya saya diajarkan untuk mencetak buku. Saya sangat bahagia saat mengetahui bahwa buku saya sudah bisa dicetak. Karena penasaran ingin mengetahui seperti apa proses pencetakan buku, saya tidak mau ketinggalan dan langsung menyetujui saat ditawarkan untuk belajar mencetak buku. Pada hari Senin pagi, saya berangkat dari Mempawah menuju Pontianak untuk belajar mencetak buku bersama Kak Saripaini. Ini merupakan pengalaman yang luar biasa. Melalui program Rumah Literasi, saya mendapatkan paket lengkap. Tak hanya menulis, saya juga diajarkan untuk mencetak buku.

Baca Juga:  Bangun Masjid Para Mualaf

Ada kebanggaan tersendiri ketika melihat buku yang ada di hadapan saya merupakan hasil tulisan sendiri. Saya sangat berterima kasih dengan adanya program Rumah Literasi terutama kepada para pembimbing yang sudah memberikan bimbingan sehingga saya berhasil menciptakan sebuah buku. Melalui program ini, saya semakin termotivasi untuk terus berkarya. (Peserta Rumah Literasi FUAD, IAIN Pontianak).

Written by teraju.id

IMG 20200715 WA0035

FKPT KALBAR Latih Enumerator Survei Nasional

WhatsApp Image 2020 07 15 at 13.45.59

Rumah Literasi: Di Balik Penulisan Buku “Hidup Anak Petani Karet”