Aku yang mendengarkannya sedapat mungkin membendung air mata yang hendak keluar dari pelupuk mata, kubuka website teraju denga laptop yang sedari tadi aku gunakan untuk mengetik karena rasa penasaran yang memuncak.
“Ape namenye Novie,” tanyaku.
Dengan cepat aku mencari judul yang telah diberitahukan Novie sebelumnya dan langsung kubuka. Belum sempat aku membacanya, air mataku sudah tak mampu lagi terbendung.
“Ngape Mita, nanges gare-gare tulisan kamek ke?” tanya Tijah.
“Tadak Jah, ingat same bapak Mita,” jawabku sekenanya.
Belum sempat aku membaca tulisan Tijah memang aku sudah menangis duluan karena mengingat segala kenangan yang setidaknya masih ditinggalkan ayahku sebelum beliau meninggal, benar yang dikatakan Tijah, dulu ayahku sangat pengertian padaku, menjemput ketika aku pulang sekolah, memujukku ketika aku menangis, hingga memarahiku saat aku berbuat kesalahan. Semua kenangan itu setidaknya masih sempat “Ua’” tinggalkan untukku sebelum Allah memanggil beliau.
Namun tak dapat aku pungkiri bahwa aku juga masih merindukan kasih sayang seorang ayah. Sama seperti halnya Khatijah, aku juga iri ketika teman-temanku menceritakan tentang ayahnya, tentang perhatian yang dicurahkan kepada mereka bahkan melalui sikap overprotective maupun kemarahan.
