Aku teringat ketika aku datang ke rumah salah satu temanku dan menjumpai ayah dan ibunya di sana. Mereka berdua baru pulang dari ladang dan menghidangkan durian dan rambutan kepadaku.
Aku melihat temanku itu sedang berdiskusi dengan santai tentang pernikahannya kepada ayahnya. Ayahnya terdiam sejenak tampak berpikir dan kemudian memberi tanggapan dengan serius. Beberapa menit kemudian ayahnya bergurau tentang calon suaminya, ia pun meminta perlindungan kepada ibunya yang ternyata membela ayahnya hingga suasana tampak menyenangkan.
Aku tersenyum lebar melihat mereka, namun jauh dalam hatiku rasanya teriris. Jika “Ua’” masih hidup, tentu kami akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan temanku itu. Tentunya “Emak” akan tersenyum dan membela “Ua’”saat kami sedang berdebat. Tentunya aku akan merengek meminta uang jajan setiap hari dan menceritakan apa yang ingin aku dapatkan, tentunya aku akan berdiskusi tentang masa depan seperti apa yang diinginkan keluarga dan diriku sendiri. Tentunya…. akan ada banyak yang dapat aku lakukan dan dapat aku rengekkan dengannya.
Sekarang waktu tak akan memberiku hal yang sama. Keadaan sudah berubah dan aku harus cukup tahu diri bahwa aku berbeda dengan mereka. Namun aku masih punya satu satu hal yang paling berharga dalam hidupku yang harusn ya tidak aku sia-siakan.
