Oleh : Khatijah
Suasana siang ini cukup panas, hal biasa di kota Khatulistiwa, dan lebih biasa lagi mahasiswa di kontrakan masih belum beranjak mandi meski telah menyelesaikan aktivitas pagi memasak bahan yang tersisa di dapur biar perut tetap terisi. Agar tetap sehat jasmani meski batin hampir hilang ke-warasannya karena masalah dan beban yang ditampung sendiri dengan alasan agar orangtua tidak repot dan susah mendapati anaknya dirantau bermasalah dengan segala hal baik masalah kuliah yang semakin meraja rela, uang belanja yang semakin hari semakin naik (belum lagi masalah hati yang tak akan membaik).
“Tuhanku .…”
“Tuhanku .…”
Teriakan tetangga kontrakan temanku, sebenarnya bukan hal yang aneh lagi menurutku karena memang aku sudah terbiasa mendengarnya bahkan terkadang jika aku kekontrakan temanku tidak mendengar suaranya aku bertanya-tanya.
“Kemane urang samping ni, kan sanyap lalu?”
“Insaf dah die, kallak oo magrib mulailah agek”.
Baiklah, agar tidak menjadi penasaran karena rontaan pria bertato, berbadan besar, gagah, berkulit putih, pendiam, dan sangat baik hati itu, aku akan menceritakan kenapa dia berteriak memanggil-manggil tuhan. Iya jelas sekali dia bukan muslim, masalah yang dihadapinya tentang trauma yang berkaitan dengan hati. Kata tetangga yang sudah lama mengenalnya.
“Calon istrihe meninggal Dek, makehe die gituk”.
