Setelah memarkirkan sepedanya, Bedjo menuju pos jaga, menanyakan lokasi wawancaranya.
“Mas masuk lewat pintu itu. Ikuti saja arah anak panah yang sudah saya tempel. Tentu sampai di ruang direktur. Semoga sukses, ya” Kata Satpam.
Di depan pintu utama, ada sebatang sapu ijuk yang disandarkan di daun pintu. Bedjo memindahkannya sapu tersebut ke dinding sebelah kiri pintu. Agak di pojok.
Di lorong, di lantai dekat ujung bawah anak tangga ke lantai dua, ada banyak ceceran air. Bedjo menengok ke kolong bawah tangga, ada kain pel. Sebelum naik Bedjo menyempatkan diri mengepel air tersebut.
Sambil menaiki anak tangga lantai dua, Bedjo memunguti beberapa tisu bekas yang terserak di tangga. Ia terpaksa kembali ke bawah karena di lorong lantai tiga tidak terlihat kotak sampah.
Di tangga menuju ke lantai tiga, dengan tisu basah yang dibawa dari rumah, Bejo membersihkan tempelan permen karet. Sebenarnya, tisu itu akan dipakainya untuk membersihkan muka, sebelum diwawancara.
Persis di depan pintu ruang direktur, Bedjo menyempatkan diri mencuci tangan di wastafel yang ada di samping kiri pintu. Tidak lupa memutar lebih kuat kran yang sudah sedikit aus.
Tadi, sebelum Bedjo, mungkin ada yang menggunakannya tetapi kran kurang terik. Air masih banyak yang menetes.
