“Kalau saya izinkan Bapak terbang, kami kena sanksi 4 hari tidak boleh terbang!” kata petugas. Tentu ini bukan pilihan. Saya diminta tes PCR di klinik bandara. “Jika dalam tempo 2 jam klar hasilnya, saya bantu bapak untuk jadwal ulang. Bisa berangkat dengan penerbangan lain di jam 13.00. Bapak ke sini lagi!
Saya ke klinik. Saya antre. Cukup panjang. Saya urutan ke-5.
“Lha, saya mesti terbang siang ini. Nanti malam ada acara.”
“Tidak bisa cepat hasilnya, Pak!” kata petugas. “Hasilnya baru 1 x 24 jam!”
Maka saya pun duduk selama 1 jam di ruang tunggu Soetta. Menenangkan hati yang kecewa. Setelah ke kamar kecil, baru call driver. Saya kembali dengan gundah gulana, setelah sebelumnya telepon Ketua Yayasan Keling Kumang yang juga kecewa. “Gak apa, kita rekaman saja. Nanti sampai rumah, bikin saja videonya untuk diputar pas sessi bro bicara!” katanya.
Saya pulang. Sudah siang ketika itu. Cuaca mendung. Gelap memayungi langit Tangerang.
Di tengah-tengah hujan dan angin lebat, saya kembali ke rumah.
Tiga jam kemudian, HP saya yang silent tiba-tiba saya lihat penuh. Dominikus Baen, orang pertama yang menelepon. Dia panik. Semua keluarga juga.
