Siang itu, mbah Kukuh membunyikan lonceng tiga-tiga berulang kali. Banjir besar hampir mendekati rumah-rumah penduduk di sekitar kapel. Ada tanggul sungai yang melintas di bagian atas perdukuhan sekitar kapel bobol.
Penduduk sudah berlarian ke luar rumah sambil mengamankan beberapa benda berharga ke perdukuhan lain yang lebih tinggi. Beberapa orang sempat mengajak mbah Kukuh mengungsi.
Tetapi, ia selalu menjawab, “Maaf, imanku tidak setipis iman kalian. Tuhan pasti akan menyelamatkan orang yang tebal imannya”
Ia yakin akan hal itu. Karena, seluruh hidupnya telah digunakan untuk mengurus kapel dengan segala macam ‘thèthèk bengèk’-nya. Tentu ia juga tidak lupa selalu berdoa di bawah salib kapel.
Awalnya, ia memilih naik ke atas meja. Dengan harapan, air hanya akan setinggi meja. Namun, perkiraannya meleset. Air terus datang dan menggenangi perdukuhan. Permukaan air terus-menerus semakin tinggi.
Ketika ia berada di atas atap pondoknya, datang rombongan tim SAR dengan terahu karet dan membujuknya mengungsi. Namun, mbah Kukuh tetap bertahan dengan jawaban ajakan yang pertama.
Tampaknya, hujan di hulu belum juga berhenti. Sebaliknya, justru semakin lebat, ditambah dengan angin kencang. Ia pun berenang menuju bumbungan atap kapel.
Kembali tim SAR datang mengirimkan bantuan dan mengajak mbah Kukuh mengungsi. Namun, tim itu kembali dengan tangan kosong.
