Community

Mbah Kukuh

Mbah Kukuh
Dr Leo Sutrisno

Menjelang magrib, belum ada tanda-tanda bahwa hujan akan berhenti. Ia pun berenang meninggalkan atap kapel yang sudah tergenang itu menuju pohon kelapa pekarangan tetangga.

Di puncak pohon, Mbah Kukuh merasakan angin besar mengguncang-guncang pohon itu. Ia menjadi ketakutan. Kemudian, ia berteriak lantang, “Tuhan, Kau tidak adil! Kekuranganku apa?! Seluruh hidup kugunakan untuk mengurus kapel dengan segala keperluannya. Bahkan, aku rela tidak menikah demi tugas itu. Tetapi, Kau tidak mau menyelamatkan aku”

Malam telah menutupi seluruh perdukuhan. Hujan belum kunjung berhenti. Bahkan, permukaan air justru merambati ketinggian pohon itu.

Selain diguyur hujan lebat. Angin kencang juga menerpa pepohonan. Tidak terkecuali pohon kelapa yang dipanjat mbah Kukuh.

Mbah Kukuh merasa lelah dan tentu saja lapar. Di antara sadar dan tidak, ia mendengar bisikan lembut, “Kukuh, kau menuduhKu tidak manolongmu. Selama hujan ini Aku sudah datang menolongmu tiga kali. Tetapi, kau berkeras hati, bertahan pada pendiranmu”.

Ketika banjir sudah surut, pagi berikutnya, penduduk sibuk mencari-cari keberadaan mbah Kukuh. Mereka hanya menemukan, ada sebatang pohon kelapa sebelah kapel yang tercabut terbawa hanyut.

Tak ada yang tahu dimana keberadaan mbah Kukuh. Tinggal kisahnya yang selalu muncul di kala bencana melanda perdukuhan itu.


Pakem Tegal 11 Januari 2021.