Oleh: Hermayani Putera
Pak Lacik adalah sosok sederhana. Seperti penduduk Bungan lainnya, sehari-hari ia mendulang emas secara tradisional. Ia juga mahir menembak ikan dengan cara menyelam dan menombak di Sungai Bungan dan Sungai Kapuas Koheng yang jernih. Bekalnya hanya kacamata google dan senapan sederhana yang dirakit sendiri untuk menembak ikan.
Namun demikian, di balik kesederhanaannya, sosok Pak Lacik adalah pahlawan bagi masyarakat Bungan. Kegigihannya menentang kehadiran para penambang emas tanpa izin (PETI) yang beroperasi di desa mereka, diapresiasi oleh pemerintah.
Ia pernah mendapat anugerah Kalpataru, penghargaan tertinggi pemerintah di bidang lingkungan hidup, untuk kategori perintis lingkungan. Ia hanya warga biasa, namun mampu menggerakkan masyarakatnya untuk bersama-sama melestarikan lingkungan hidup di kawasan ini dari praktek PETI.
Tentu saja PETI harus ditertibkan dan dicarikan solusi yang tepat pagi para pekerjanya. Cara kerja mereka sangat merusak lingkungan. Mereka menggunakan mesin pompa dan selang berdiameter besar untuk menyemprot dinding sempadan sungai, mencari emas. Lapisan atas tanah dibuka, vegetasi penutup tanah dibabat, mengeruk dan menggali lubang.
