Malam kedua di Nanga Bungan ini aku habiskan bersama Pak Lacik, mengulang cerita seminggu di Taman Negara Batang Ai pada tahun 2003. Ia tertawa sambil tetap menahan senyum, ketika aku ceritakan beberapa kejadian lucu selama di sana. Sekitar 4-5 warga Nanga Bungan dan beberapa warga dusun lain yang datang memenuhi undangan dialog dengan bupati, ikut meramaikan obrolan kami. Belakangan, Lerry dan 4 rekannya sesama anak muda Bungan turut bergabung.

Malam kian larut, pembicaraan tambah ramai. Obrolan kami mulai diselingi hal-hal serius. Tawa dan senyum Pak Lacik berubah, ketika ada seorang warga yang mengangkat permasalahan PETI. “Dulu, saya masih mampu mengajak masyarakat menghalau para pekerja tambang emas dari luar yang membawa mesin dan selang, karena mereka mencoba menghancurkan kehidupan kita. Waktu itu jumlah mereka belum banyak. Tidak seperti sekarang, jumlahnya sudah berpuluh kali lipat,” keluhnya, pasrah.
Wajahnya mengguratkan kesedihan dan kemarahan mendalam, karena tidak kuasa melawan para perusak lingkungan tersebut.
Keluhan Pak Lacik disambung oleh Lerry. “Kami juga mulai galau, karena hasil dari mendulang emas secara tradisional, panen gaharu dan sarang walet di gua-gua sudah semakin berkurang,” ungkapnya. Ketiga komoditas inilah yang menjadi sumber penghidupan mereka selama beberapa generasi.
