Selain tebing sungai yang rawan longsor, para penambang juga meninggalkan lubang-lubang menganga sedalam 3-4 meter, bahkan ada yang lebih. Lahan-lahan mulai tandus karena vegetasi penutup tanah habis dikuliti, menggerus lapisan atas tanah yang subur. Akibatnya, erosi dan pendangkalan sungai pun semakin masif.
Para pekerja PETI juga memodifikasi mesin mobil menjadi mesin penyedot material pasir di dasar sungai, berharap menemukan serpihan-serpihan emas. Mereka menggunakan air merkuri untuk memisahkan logam emas dari material lainnya. Merkuri ini sangat berbahaya bagi saluran pencernaan, sistem saraf, dan ginjal.
Emas memang kadang didapat oleh para penambang yang bertungkus lumus, makan dan tidur di lapangan. Kulit mereka gelap, karena setiap hari terpapar terik sinar matahari. Hasilnya disetor kepada pemodal yang menunggu di rumah mewah mereka yang ber-AC.
Masyarakat harus membayar mahal akibat dari PETI ini. Air keruh mengental bak kopi susu dan tercemar merkuri. Air sungai yang sejak lama digunakan untuk keperluan sehari-hari, mandi dan mencuci, nyaris tidak bisa dipakai lagi. Air bersih menjadi barang mewah dan mahal. Bisa dibayangkan jika merkuri larut dan hanyut dibawa air Sungai Kapuas ke hilir. Sebuah ketidakadilan ekonomi dan ekologi yang nyata.
