Kami bubar menjelang jam 23.30 WIB. “Kita istirahat ya. Kasihan Nak Herma dan kawan-kawan yang besok masih melanjutkan perjalanan ke Tanjung Lokang. Terima kasih banyak sudah bersedia mendengar isi hati kami ya Nak,” kata Pak Lacik, sambil menyalami dan memelukku erat. Adegan yang persis sama ketika kami baru tiba dua hari sebelumnya. Salam dan pelukan terakhir dari seorang pejuang lingkungan di hulu sungai.
Gambaran kusam masa depan Orang Punan menjadi pengantar tidurku. Perumpamaan salah satu warga dalam obrolan tadi terus terngiang, “Kami tidak mau masa depan anak cucu kami seperti tikus mati di lumbung padi.”
Baca Juga:Kecamatankubu2019.blogspot.com
Salam Lestari, Salam Literasi
