Satu per satu anggota club kembali mendapat giliran hingga tibalah saat aku membacakan paragraf pertama dari tulisanku.” Udah jadi tulisannya Mita, tanya Pak Yus ketika ia datang ke ruangan Club Menulis…” ujarku dengan suara lantang.
Semua anggota Club termasuk Pak Yus langsung tertawa dengan tawa besar, sedangkan aku hanya dapat menyembunyikan wajahku di belakang Saripaini.
“Balas dendam Mita ni ye,” ujar Pak Yus ketika beliau berhenti tertawa.
“Tdak Pak,” jawabku langsung dan cepat.
Mereka kembali tertawa.
Setelah semuanya selesai, Pak Yus meminta kami membacakan dua paragraf akhir. Kak Desi dan Bang Amar izin kuliah. Bapak meminta kami langsung membacakannya. Ketika tiba giliranku, aku merasa agak keberatan karena tulisanku belum selesai. Aku membacakan paragraf akhir yang belum aku selesaikan. Setelah itu bapak terdiam. Club terasa sepi, aku tegang menunggu jawaban bapak. Sebenarnya aku agak ragu karena aku mengangkat situasi yang sama dengan Pak Yus.
“Menurutmu tulisanmu udah belum?” tanya Pak Yus setelah cukup lama diam. “Belum Pak,” jawabku dengan cepat dan tegang.
“Haa tu bisa ditambahkan,” tambah bapak. Setelah itu beliau memberikan beberapa tambahan untuk tulisanku.
Alhamdulillah, sekarang aku bisa tenang karena sudah memenuhi janji dengan mengirim tulisan dengan Pak Yus. (*)
