Community

Membaca Samir dan Samira: Membaca Kehidupan yang Tak Terduga

Membaca Samir dan Samira: Membaca Kehidupan yang Tak Terduga

Oleh: Farninda Aditya

“Apa itu, membaca dan menulis?” tanya Samira.

“Membaca dan Menulis”, papar Pak Guru yang baik, “adalah pintu gerbang menuju dunia dan kehidupan. Membaca dan menulis adalah awal dari segala sesuatu”.

Samira masih belum mengerti, menurutnya apa yang dikatakan Pak Guru tidak terlalu penting. Sebab, ia bisa mengendarai kuda jantan sangat baik, dan pemain buzsakhi yang hebat. Samira juga sampaikan itu pada Kakek. Kakek dengan tangan satu. Namun, Kakek bilang Samira harus sekolah.

“Kalau kau tak sekolah, mau jadi apa kau besar nanti”, begitu kata Kakek tangan satu. Tangan yang terkena ranjau.

“Pendidikan adalah pintu gerbang menuju dunia”. Kakek menegaskan.

Saya, baru saja menyelesaikan buku berjudul Samir dan Samira: Kisah Memilukan Tentang Cinta dan Penindasan di Afghanistan karya Siba Shakib. Buku terbitan Pustaka Alvabet ini berkisah tentang kehidupan seorang anak perempuan dari Hindu Kush, Afghanistan yang dikenal oleh masyarakat sebagai Samir.

Ayahnya, Pak Komandan, kepala suku, mendidik Samira sebagai anak laki-laki. Laki-laki sejati, memiliki anak laki-laki. Samira kecil juga mengetahui bahwa dirinya adalah Samir. Hingga suatu hari ia tahu, dirinya berbeda. Banyak pertanyaan yang ada di benaknya. Mengapa ia lahir sebagai perempuan, mengapa ia hidup sebagai laki-laki. Mengapa ibu dan ayahnya menjadikannya demikian. Tapi, Samira tak ingin menanyakannya.