Ibunya-Daria, orang yang tahu bahwa Samir adalah perempuan selain ayahnya, tak dapat ditanyainya. Ibunya terlalu banyak menahan sakit akan hal itu, untuk menyampaikan perasaanya saja, Daria hanya dapat berbisik-bisik pada gelembung air yang mendidih. Maka, Samira memilih membisu. Samira kecil hidup beberapa waktu sebagai anak laki-laki yang bisu. Anak laki-laki yang pandai berkuda, pandai berburu, menembak, dan memiliki kharisma lebih dari anak laki-laki lainnya.
Suara Samira terdengar ketika Pak Komandan kembali tanpa nyawa setelah bertempur. Meninggalnya Pak Komandan, menjadikan sang Ibu tak memiliki perlindungan. Suatu malam, sekelompok musuh masuk ke tenda mereka dan membuat Samira harus membunuh. Keadaan ini, membuat Samira dan ibu tersudut. Ibunya harus memeroleh perlindungan dengan menikah, namun Samira maupun Daria tak menginginkan hal itu. Dalam keadaan tersebut, keduanya khawatir, identitas Samira dapat terbongkar.
Akhirnya, mereka diam-diam melarikan diri menuju tempat tinggal kakeknya. Tempat tinggal yang penuh kedamaian. Tempat yang membuat Samira dapat tertawa seperti tawanya masa kanak-kanak. Namun, di sana ia tetap dikenal sebagai Samir.
Berbeda dengan Ayahnya, kakek bertangan satu mengatakan bahwa Samira memerlukan orang lain untuk hidup. Setiap anak laki-laki dan perempuan adalah istimewa. Berkat kakeknya, Samira menyukai dunia baca dan tulis, ia tertarik pada ilmu pengetahuan.
