Pembimbing mengatakan apabila masih tidak ada kejelasan untuk pertemuan selanjutnya kami akan keluarkan dari grup ini. Saya pun sedikit kaget membacanya, lalu saya langsung japri kakak pembimbing dan mengirimkan tulisan saya kepadanya, dengan kelembutan & kebijaksanaan kakak Novie Anggraeni akhirnya menerima alasan-alasan yang saya tuliskan dalam via WhatsApp.
Dalam menjalani hal menulis di sela-sela kesibukan mengerjakan tugas mata kuliah, seperti makalah, resum, video, dan lain-lain. Ternyata saya masih bisa meluangkan waktu untuk menulis sebuah autobiografi yang berjudul Ha Ana Dza, hal ini merupakan pertama kalinya saya menulis untuk dijadikan sebuah buku.
Suatu hari saya mendapatkan saran dari pembimbing agar juga menceritakan sosok orang tua. Di sela-sela merangkai kata-kata, saya sambil bertanya-tanya pendek kepada ayah tentang usia remajanya, tentang kehidupannya, pekerjaannya dan lain sebagainya.
Ayah menjawabnya, “Waktu itu saya begini, seperti ini, dan seterusnya”. Kemudian di lain waktu di lain hari saya menanyakan lagi, lalu respon orang tua lain, emang untuk apa menanyakan hal itu? Jawab saya, “Untuk tugas membuat buku Yah! “o.. “emang ayah kira untuk wawancara UKT dan Beasiswa. “Iya.!
