Community

Perjalanan Tiga Dara Menuju Air Terjun Sambora

Perjalanan Tiga Dara Menuju Air Terjun Sambora

“Banar ke tadak Novie? Kenape lama benar?” Kami pun berhenti lagi di warung yang banyak laki-lakinya.

“Dekat lagi Dek, belok kanan ada jalan beraspal. Butuh pemandu dak dek? Nya die maok nya,” ujar seseorang di antara mereka menawarkan seorang pemuda kepada kami.

“Ndakusahlah Bang,” balasku.

Ternyata jalan beraspalnya hanya sedikit, selebihnya jalan berbatu. Tak seberapa jauh Gogo berjalan, kami menemukan persimpangan. Jika kami berjalan lurus, kami dapat menjumpai sebuah rumah, namun aku tak berani ke sana karena di depannya terdapat seekor anjing yang tampak galak. Di tengah kegalauan, ternyata ada seorang lelaki paruh baya muncul dari hutan di samping jalan kami. Kami pun bertanya kepada beliau. Akhirnya kami menemukan arahnya. Benar kami harus belok ke kanan.

Kami melewati tanjakan curam untuk dapat sampai ke pondok kecil tempat kami selanjutnya menyimpan motor.

Ketika sampai di pondok, kami pun makan perbekalan kami karena perut sudah lapar. Setelah itu langsung kembali melanjutkan perjalanan. Kami harus melewati hutan yang cukup lebat dengan tanah yang tidak datar.

Masalahnyayang masuk ke hutan tersebut hanya kami bertiga, tiga dara.

Tapi entah kenapa kami begitu berani demi mencapai tempat tujuan.