Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan seekor anjing hutan yang cukup mengerikan. Anjing yang sempat terhenti di depan kami, kemudian mundur ke belakang. Kami menghembuskan nafas lega dan berjalan kembali. Setelah berjalan beberapa langkah kami kembali melihat anjing tersebut berdiri di depan kami dengan lebih percaya diri, namun kali ini ia tak sendiri. Ada dua ekor anjing yang sama besar sedang menatap kami dengan tenang.
Jantungku berpacu kencang, “Dahlah Novie, Mita nyerah,” ujarku kepada Novie sembari memendam rasa takut.
Novie juga tampak takut sehingga ia hanya terdiam. Untungnya Novie membawa sebatang kayu panjang dan ketika Novie arahkan ke arah anjing tersebut, satu persatu anjing itu lari, menyisakan kelegaan di dalan dada kami.
Bukannya menyerah, setelah insiden itu kami masih berani melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian kami menemukan hutan sawit. Sesuai arahan kami berjalan lurus melewati jalan setapak yang dikelilingi hutan.
Kami terus mengikuti jalan setapak tersebut, namun setelah cukup lama berjalan di hutan, kami belum juga menemukan air terjun Sambora. Bagiku tak masalah karena perjalanan seperti ini aku rasa sangat menyenangkan. Serasa jadi backpaker.
“Kalau masih tak ketemu di depan kite balek yak. Yok,” ujar Novie.
