Hal yang cukup unik bagi saya ketika pengendara didapati Polantas memutar balik arah kendaraan melalui jalur yang tidak diperbolehkan. Alasan unik yang diutarakan pengendara tersebut adalah “saya tidak tahu”. Tentu hal ini menjadi sesuatu hal yang lucu, sebab rambu-rambu lalu lintas dalam keadaan baik dan jelas. Kata tidak tahu memang menjadi alasan yang dianggap pelanggar lalu lintas sebagai alasan paling ampuh. Mereka mungkin menganggap bahwa Polantas akan mengampuni ketidak tahuan mereka. Harus kita ketahui, bahwa Polantas tetap polantas, bukan nabi, bukan pula Tuhan Yang Maha Pengampun.
Polantas dan pengendara tak sebanding
Jumlah Polantas yang stand by di jalanan sangat tidak sebanding dengan pengendara, sehingga memang sulit untuk memperhatikan satu persatu pengendara. Saya lihat, biasanya di persimpangan jalan hanya ada 2-5 polantas, sementara pengendara dari masing-masing jalan tampak padat hingga puluhan bahkan ratusan meter jauhnya, apalagi saat pagi dan sore hari sebagai waktu berangkat dan pulang kuliah/kerja.
Banyaknya pelanggaran lalu lintas yang terlihat, memicu saya beranggapan bahwa perlunya pendidikan khusus lalu lintas bagi pengendara karena pengendaralah pemicu utama kecelakaan. Kesadaran pengendara harus dibangun. Jika pengendara memiliki kesadaran apalagi ditambah dengan kesabaran, saya yakin pelanggaran akan berkurang bahkan hilang. Namun itu seperti mimpi yang sulit diraih.
