Abang memang begitu. Kalau pertanyaan yang diajukannya belum mendapat jawaban yang masuk akal menurutnya, akan terus bertanya.
Dikejarnya terus jawaban kita sampai dia paham. Kemudian baru dia minum air putih. Selesai minum, muncul pertanyaan lagi.
“Kenapa gelas ini ringan, yang itu berat Bunda?”
Pertanyaannya muncul setelah gelas yang dipegangnya diletak di atas meja. Dia biasanya pakai gelas kaca besar bertangkai yang berat. Hari ini dia pakai gelas besar bertangkai juga, tapi bahan mika. Jadi lebih ringan.
“Ini gelasnya dibuat dari bahan mika, Bang, yang itu dari kaca. Makanya ini ringan, yang itu berat”, langsung saya jawab serius pertanyaan Abang kali ini.
“O…mika ringan ya…”, dia mengambil kesimpulan.
Dalam benak saya kemudian, muncul pikiran saya harus cari referensi bagaimana menjawab pertanyaan anak, yang sesuai dengan dasarnya tapi mudah dicerna. Sesuai umurnya.
Pertanyaan-pertanyaan Abang, butuh jawaban yang masuk akal dan mudah dipahami. Abang, oh Abang. (*)
