Lalu apa ide kreatifnya? Yang bisa menandingi kehebatan kontingen sekolah-sekolah papan atas? Wong kami ini tidak pernah melakukan riset sama sekali?! Tak pelak, dengan manajemen by kepepet, saya ambil ide yang kerap kami lakukan di rumah dan kampung berbasis pertanian Amsterdam–Ahmad Yani Masuk Sungai Raya Dalam. Saya bilang saja metode kami adalah observasi lapangan. Turunan dari paradigma fenomenologi. Subjeknya adalah kelapa (Cocos Nucifera.L) Sub topiknya pengolahan buah kepala menjadi minyak! Produksi yang bisa jadi duit–menuju pabrik yang mensejahterakan karena membuka banyak lapangan kerja. Mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan hingga penanganan produksi pasca panen. Bahkan industri turunan yang banyak sekali derivasinya. Tak pelak presentasi atas data dan fakta serta analisanya dituangkan dengan cara murah-meriah. Presentasi ala zaman bahulak. Yakni ambil selembar kertas manila atau kertas karton–begitu dulu kami menyebutnya. Lalu dibuatkan skema bergambar. Dari sinilah kami start bernarasi dan berargumentasi di depan dewan juri. Ditonton pula ratusan pasang mata yang memenuhi Gedung Auditorium. Bar bar bok. Bebar tentu saja, Tapi apa lacur, nasi sudah jadi bubur, kita buat bubur yang uenak tenan.
Presentasi Zaman Bahulak
