Andai kata ngajar pun, hanya bisa mengajar ke peserta belajar yang bisa bayar. Inilah penyebab TPA berbayar, TPQ beriuran, apa-apa kegiatan belajar Islam semua ditarif. Boleh sih, boleh aja. Halal aja. Tapi kalo semuanya berbayar, yang gak bisa bayar gimana hak nya atas ilmu?
Padahal ilmu ini hak. Berhak diakses oleh siapa saja.
Lagi-lagi berantakan karena urusan bertahan hidup cari makan.
Riset penelitian adalah kerja panjang keilmuwan. Sangat tidak komersil, karena gak setiap yang diteliti itu bisa diduitin atau jadi hak paten. Banyak kerja riset yang outputnya adalah hasil temuan keilmuwan, yang bisa jadi sangat dibutuhkan masyarakat.
Kita sebagai anak bangsa ini sebenarnya membutuhkan analisa sejarah besar bangsa ini. Sejak zaman Sriwijaya hingga Majapahit, masuk Kerajaan Demak hingga Mataram Islam. Kita harus ngerti bahwa kita ini adalah bangsa yang identitasnya besar.
Bagi saya secara pribadi, riset sejarah ini mandeg. Sosialisasinya ke publik juga mampet. Semua ini karena riset ini susah jadi harapan untuk bertahan hidup. Karena bingung meng uangkannya gimana?
Akhirnya generasi hari ini lembek, inferior, gak percaya diri, karena gak ngerti identitas dirinya. L
Beda kayak riset produk, riset teknologi, nge duitinnya enak, apalagi jika yang memodali riset swasta.
