Akhirnya banyak dari mereka yang bisa menulis, harus memilih untuk tidak menulis, karena harus kerja cari makan setiap hari. Akhirnya masyarakat kehilangan value seorang penulis.
Bayangkan jika setiap masjid memiliki dapur umum, gratis makan tiga kali sehari, maka seorang penulis bisa numpang makan dulu di masjid, sampai bukunya jadi dan terbit. Dan insyaAllah, ketika ada cashflow, orang yang hatinya baik pasti akan menyumbang kembali ke dapur umum.
Banyak ulama muda yang siap mengabdi ke masyarakat. Saya sudah sering ketemu anak muda yang hasratnya mengajarkan Al Quran, bahagia jika anak-anak kecil bener bacaan Qur’an nya. Kebahagiaannya menerima setoran hafalan Al Quran.
Di titik mereka ini, bahkan kompak suami istri, keduanya sudah mewaqafkan hidupnya ke dakwah.
Hmmm, jangan samakan nafsu dunia kita dengan mereka ini, mereka ini asal ada hunian, ada tempat berteduh, walau bedeng GRC gypsum, lalu bisa makan, mereka siap mengajarkan kebaikan.
Karena keberadaan masjid dengan dapur umum ini masih jarang, yang menyediakan nasi box gratis masih jarang, maka lapisan segmen ini gak bisa fokus ngajar, harus jualan, supaya ada cashflow.
