Tepat saat aku telah berhasil menulis 7531 kata, pada 10 Mei 2020, perasaan pesimis sangat mendominasi keadaanku saat itu, kata yang tak mampu aku kembangkan lagi menjadi warna dari rasa putus asa itu. Peristiwa dan tanggal-tanggal penting yang aku butuhkan untuk melengkapi tulisanku, tidak ditemukan keberadaannya. Satu-satunya orang yang menyimpan catatan itu hanya anak kedua Mbah Muqarrab Abidin, Kak Ngah Musyrifah, dan ketika aku menanyakan lembaran-lembaran itu, ia lupa di mana kertas-kertas itu tersimpan. Saat itulah aku ingin mencukupkan cerita yang telah kutulis, harapan untuk menjadikan cerita Mbah Muqarrab dalam sebuah buku pun sirna. Namun dengan kuasa-Nya, Allah memberikan pertolongan. Berselang 2 pekan setelahnya, kabar bahagia aku dapatkan. Kak Ngah Musyrifah menemukan lembaran-lembaran yang berisikan tanggal dan peristiwa penting Mbah Muqarrab Abidin. Seperti mendapatkan energi baru mendengar kabar tersebut, perasaan buntu yang awalnya kurasakan, perlahan mulai bisa kuurai.
Rumah Literasi: Sebuah Cerita untuk Karya Pertamaku
