Oleh: Huzaimah Agustini
Berawal dari kewajiban yang harus ditunaikan hingga mampu mengubah persepsi akan sulitnya membuat sebuah tulisan. Cerita ini menjadi awal bagiku dalam menciptakan sebuah karya tulis yang jauh dari kata sempurna. Hanya sebuah keinginan untuk mengabadikan cerita seorang pejuang dari sebuah desa di dekat hutan yang jasanya tak ‘kan pernah bisa kubalaskan. Ialah sosok yang menanamkan pentingnya pendidikan untuk kami para generasi yang jauh dari perkotaan.
Mbah Muqarrab Abidin. Sosok yang menjadi pilihanku untuk mengabadikan setiap episode kehidupannya dalam sebuah karya tulis yang dapat dibaca semua orang untuk mengambil pelajaran dari setiap episode kehidupan yang berhasil ia lalui. Bukan karena keberhasilan yang ia dapatkan saat ini, melainkan perjuangan dan pengorbanan yang telah dilewati. Buku itu diberi judul “Jejak Penjaga Kalam Suci”.
Bagi seorang pemula sepertiku dalam menulis sebuah cerita, rasa putus asa selalu menghantui, kurangnya perbendaharaan kata yang dimiliki dan sulitnya menggabungkan setiap cerita agar mudah dicerna dan dipahami menjadi kendala yang tak bisa dielakkan. Tidak percaya diri dengan setiap kata yang dituliskan berkali-kali harus dirasakan. Jika tanpa pertolongan dari-Nya dan dukungan dari semua pihak, karya tulis ini mungkin hanya akan menjadi dokumen yang tersimpan rapi.
