“Kita harus tiba di Putussibau hari Senin ini juga, atau paling lambat beberapa jam sebelum acara yang harus kita hadiri di Bappeda Kapuas Hulu pada Selasa (18/8) jam 09.00 pagi. Undangan sudah beredar, tidak mungkin diundur,” kata Bung Jimmy.

Dalam acara ini, setiap pakar dan konsultan akan mempresentasikan rancangan metodologi penyusunan panduan yang akan ditulis masing-masing dan berharap mendapatkan pengayaan dan masukan dari peserta, sebelum kita ke lapangan.

Malam itu juga kami berunding untuk mencari opsi lainnya. Cek ke beberapa layanan tiket online, tidak ada juga penerbangan Nam Air pada hari Senin tersebut. Nam Air adalah maskapai selain Wings Air yang melayani rute Pontianak-Putussibau.

Opsi jalan darat akhirnya kami tempuh, dan naik bus besar menjadi pilihan. Selain lebih nyaman dibandingkan menggunakan mobil biasa, berangkat bersama dalam satu bus juga lebih memudahkan koordinasi selama perjalanan hingga tiba di Putussibau.

Sebenarnya ada armada bus lain seperti Perintis dan Maju Terus (Marus) yang juga melayani rute Pontianak-Putussibau, namun setelah mengecek jam keberangkatan yang di atas jam 12.00, kami putuskan untuk berangkat dengan bus DAMRI. Alhamdulillah, masih ada slot 10 kursi sesuai jumlah rombongan kami.

Aku memilih posisi duduk di samping Pak Soewartono. Sepanjang perjalanan kami manfaatkan mengenang kebersamaan dan kemitraan di masa lalu dalam pengelolaan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK).