“Dengan tetap mempertahankan keaslian dan keasrian lansekap hutan lengkap dengan gua, air terjun, pengamatan burung, dan kekayaan flora fauna di dalamnya, hutan juga bisa menjadi destinasi ekowisata yang menarik dan mendidik. Melalui ekowisata, masyarakat akan mendapatkan tambahan sumber penghidupan melalui pembagian peran yang adil dan merata sebagai pemandu, penyedia jasa transportasi, penginapan, dan konsumsi atau kuliner khas lokal,” sambungnya.
Ya, Pak Soewartono kembali ke Putussibau setelah enam belas tahun lalu mengakhiri tugas di sini dengan meninggalkan cukup banyak legacy. Kantor Balai yang dibangun melalui dana ITTO, merintis penataan batas kawasan, dan mengawal kerjasama pengelolaan kawasan konservasi lintas batas antara Betung Kerihun dengan Batang Ai National Park (BANP) dan Lanjak Entimau Wildlife Sanctuary (LEWS) di Sarawak, Malaysia. Ia juga concern dengan upaya peningkatan kapasitas staf teknis dan polisi hutan (polhut) taman nasional. Jika ekowisata Kapuas Hulu bisa berkembang seperti sekarang, ada kontribusinya yang cukup signifikan dalam meletakkan dasar-dasar pengembangannya.
Pak Soewartono menyaksikan banyak perubahan seperti yang diceritakannya kepadaku. Tapi bagiku, tidak ada yang berubah dari dirinya. Perhatian dan kehangatannya kepada kolega kerja, dan terutama tentang kedalaman ilmu kehutanan, konservasi keragaman hayati, dan ekowisata yang terus ia ceritakan kepada pemerintah dan masyarakat Kapuas Hulu selama seminggu kami bersama minggu lalu. Terima kasih banyak, Guru dan Mentor terbaik.
Salam Lestari, Salam Literasi
#MenjagaJantungKalimantan, #KMOIndonesia, #KMOBatch25, #Sarkat, #Day19, #hermainside, #SalamLestariSalamLiterasi
