Satu peristiwa yg susah saya lupa adalah ketika semua mata kuliah S2 sudah keluar, beliulah orang pertama yg teriak “Alhamdulillah kita sudah magisteeer” dg suara yg sangat lantang. Padahal belum lulus toefl, belum lulus tesis dstnya. Ini mengajarkan kpd saya bahwa optimisme itu penting, bahwa ada kendala dalam ikhtiar tidak boleh membuat kita surut. Pada diri Bang Hamka, nilai optimisme ini yg paling dominan dari sekian kelebihan yg dimilikinya. Saat setelah selesai kuliah S2 itu, beliau pula yg “bertaruh” siapa yg duluan jadi guru besar. Siapa yg duluan jadi rektor, siapa yg duluan…..dst.. Ternyata dari taruhan dua hal tersebut, bang Hamka lah yg nomor wahid. Meski utk profesor, pengukuhannya lebih dahulu Profesor Nur Yasin dari UIN Malang. Sementara Bang Hamka telah dua periode menjadi Rektor, dan meraih guru besar yg belum sempat dikukuhkan sampai ajal menjemputnya.
Selamat Jalan Abangku Profesor Hamka Siregar
