Diantara pola relasi yang secara kasat mata dapat kita lihat adalah masyarakat kita menjadi lebih terbuka. Pergaulan sosial di Warkop sangat cair, egaliter dan toleran. Di Warkop kita tidak bisa lagi membedakan status sosial seseorang, dan setiap orang datang juga tidak membawa identitas dan status sosialnya. Padahal kita tahu, pasti yang datang tidak sedikit mereka yang berasal dari kelas sosial atas, kalangan pejabat, tokoh politik, tokoh masyarakat atau para pengusaha. Namun, semua identitas itu menjadi lebur dalam identitas baru sebagai “warga pengemar kopi”.
Kemudian dari segi latar belakang primodial seperti suku dan agama, juga tampak cair. Tidak lagi ada stigma, ini warkop buat kelompok tertentu. Bahkan jikapun ada, malah bisa jadi akan sepi pengunjung. Mindset Warkop adalah mindset pasar, harus terbuka dan di posisi tengah dari berbagai kepentingan. Jadi, kita bisa belajar tentang arti toleransi yang sesungguhnya dari mileu budaya Warkop. Kita bisa berkumpul bersama, menikmati kegembiraan bersama, dengan tanpa dibebani oleh berbagai perbedaan diantara kita.
Warkop juga mengajarkan kita sikap tepo seliro atau tenggang rasa. Meskipun pengunjung ramai, kadang harus antre, kursi terbatas, para pengunjung tetap bisa saling berbagi. Ada sikap saling berbagi, dan kadang mengalah agar orang lain bisa juga menikmati.
