Setelah dicoba ditusukkan beberapa kali akhirnya linggis itu tertancap hampir seluruh batang, sebelum menumbuk batu.
Unggul diminta mengulangi beberapa kali di tempat yang berbeda-beda. Hasilnya, sama. Selalu menumbuk bebatuan keras.
“Nah kau tahu, sekarang” Kata bapaknya. “ Seluruh pekarangan ini penuh dengan tumpukan batu. Ada yang sebesar keranjang ini. Ada juga hanya sebesar buah jeruk Bali itu” Lanjut bapaknya sambil menunjukkan jarinya ke tumpukan batu yang ada di pinggir talut.
“Dulu, Bapak membeli tanah ini dengan harga sangat murah. Tidak seorang pun mau membeli. Sebagian permukaannya sangat rendah. Kurang lebih sama dengan jalan seberang itu.”
“Setiap hari, bertahun-tahun, Bapak isi dengan batu-batu di kali sana”. Kata bapanya sambil menunjukkan jari ke arah kali di dekat desa.
“Jika kau gali sekarang, mungkin perlu ratusan truk atau bahkan lebih untuk menampungnya” Tambahnya.
“Sembari mengumpulkan batu, aku cangkul tanah dan padas di sebelah sana. Jika hujan semua air dari pekarangan tetangga mengarah ke sini sambil membawa tanah itu ke sini”
“jadilah pekarangan ini terlihat rata dan luas”.
“Pohon-pohon itu” Kata bapaknya sambil mengarahkan telunjuk jari, “Semua tumbuh subur karena Bapak timbuni dengan kotoran sapi tetangga. Mereka senang, kandangnya menjadi selalu bersih”
