Community

Wajah Ramah Teluk Air

Wajah Ramah Teluk Air

Karena berada di cabang sungai yang berbeda, tidak sejurus dengan perjalanan ke Teluk Batang, kampung ini jarang disinggahi atau dilihat orang. Delta sungai yang luas, berada di pulau tersendiri, menambah alasan mengapa Teluk Air menyepi.
Tapi yang menarik, meskipun jumlah penduduk hanya ratusan orang, tetapi, jika dlihat dari jauh rumah penduduk di sini lebih banyak dari jumlah itu. Rumah-rumah beratap daun menjadi pemandangan tersendiri. Orang yang tidak tahu akan menduga rumah beratap daun ini rumah tinggal, dan sekaligus membayangkan “kesederhanaan” hidup masyarakat.

Rumah beratap daun ini bukan rumah tinggal. Ini rumah dapur arang. Dapur arang dimiliki hampir 50 persen warga. Dibangun dari tanah kuning, dengan teknologi tradisional. Rumah ini menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat. Harga arang, terutama untuk kelas A, relatif bagus.

Kami singgah di sebuah dermaga –saya lupa nama pemilik dermaga itu. Beberapa perahu tertambat di sana. Kami menyusuri lorong berlantai papan antar rumah, mengingatkan tipologi rumah kampung di pinggir sungai.

Lalu kami memasuki kampung, berjalan di atas jalan bersemen kecil –sekitar 1 meter lebih. Beberapa warga terlihat sedang duduk bersantai. Mengobrol. Bahasa yang digunakan bahasa Melayu mirip Pontianak.