Sejumlah anak sedang bermain: ada yang mandi berenang, bersepeda, atau sekadar jalan melintas. Sebuah pemandangan yang mengingatkan saya pada masa kecil-kecil dahulu.
Melihat kedatangan kami, pasti, orang bertanya-tanya. Tetapi ada Bang Is, dan Bang Suhaimi yang berjalan di depan yang mereka kenal. Kalau tidak, kami mungkin diduga orang proyek. Ha ha…
Kami singgah di rumah Bang Dol, keluarga Bang Suhaimi. Ngobrol panjang dari satu topik ke topik lain. Mulai cerita tentang kampung, kehidupan warga, hingga kisah masa lalu di era kejayaan kayu. Cerita tentang ikan, udang, buaya, menjadi cerita paling menarik. Lucu abis. Apalagi ada bakwan dengan udang besar di atasnya, kopi, serta udang galah goreng dan asam pedas ikan sembilang.
Kemudian kami berjalan ke arah hilir –arah barat kampung. Menyusuri “keramaian kampung”, melihat keadaan warga. Sisa-sisa kejayaan kayu masih terlihat pada rumah-rumah penduduk.
Warga tersapa satu persatu, memperlihatkan keramahan yang terpancar. Tambahan lagi, seorang Bang Suhaimi yang bersahaja menyalami dan menciumi tangan mereka. Pertemuan mereka membangkitkan ingatan tentang masa lalu, lebih 20 tahun lalu.
Semuanya menjadi moment bernostalgia. Nostalgia yang mengesankan tentang keramahan Teluk Air, dan akan menjadi ingatan bagi pendatang seperti kami. (*)
