Community

Walikota Buchary A Rachman di antara Wakaf dan Pantun

Walikota Buchary A Rachman di antara Wakaf dan Pantun

Ada pantun jenaka memang. Macam begini, “Jaka Sembung bawa golok// Nggak nyambung goblok!// Pantun yang kerap dihadirkan di radio lawas kawula muda. Sampai kini masih trending topik di udara perpantunan.

Ada juga pantun nasihat. Kali ini bertubi-tubi datangnya sejak tempo doeloe hingga zaman now. Misal, “Asam kandis asam gelugur// Kedua asam riang riang// Menangis mayat di pintu kubur// Melihat badan tidak sembahyang//

Pantun beraneka ragam banyaknya. Ada pantun anak-anak, remaja dan dewasa. Ada pula pantun beraneka etnis di Indonesia bahkan dunia. Kalau saja dr H Buchary Abdurrachman masih hidup, pastilah dia bersemangat agar pantun masuk dalam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) di Unesco. Unesco adalah unit lembaga PBB yang mengurusi kebudayaan global bernilai universal. Nah pantun memenuhi kaidah universalitas umat manusia sejagat karena kandungan nilainya yang tidak dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu. Ia selalu relevan dengan isi dan sampiran. Dengan isi dan sindiran. Banyak negara menuturkan pantun yang sopan dan santun sekaligus sastrawi tersebut sehingga menyebar di seantero dunia. Ia umumnya empat baris terdiri dari dua bait sampiran dan dua baris isi. Tetapi bisa pula enam baris atau lebih dengan untaian kalimat saling berpaut serta saling berpagut.