Dr H Buchary A Rachman tidak hanya “bernyanyi” dengan pantun di acara resmi. Dia juga mendendangkan pantun ke hadapan pasien-pasiennya yang datang berobat akibat sakit kulit dan kelamin. Soal pantangan makan hal-hal tertentu direpekkannya dalam bait pantun nan indah, sehingga pasien sudah merasa sembuh sebelum minum obat akibat bahagia dalam tawa mereka. Begitupula jenis obat-obat sebagai resep racikannya. Diracik pula nasihat berbungkus pantun nan indah. Bagiku, tak suah melihat ada sosok seperti Buchary dalam berpantun sebagai Walikota–walinya sebuah kota. Kota bumi khaTULIStiwa pula. Kental dengan entitas kemelayuannya. Lekat dengan pelisanan nan menggoda untuk lawan bicara. Melayu pengopi dan pembicara di mana-mana. Begitulah pula kata Andrea Hirata dengan Tetralogi Laskar Pelanginya.
Perihal wakaf, Buchary pria relijius. Di tangannya, aset tanah dan gedung HMI lancar dalam urusan wakif dan nazir (2004). Dia propose terbitnya sertifikat wakaf menyusul terbitnya UU Wakaf No 41 Tahun 2004. Dia sebagai walikota pro aktif pula mengurusi pengelolaan wakaf Pemprov atas lahan dan Mesjid Raya Mujahidin sebagai mesjid terbesar di seantero Kalbar (2006). Semua terjadi di masa Buchary walikota.
Kenapa hal itu semua mudah diurus dalam tangannya? Karena dia cair dengan komunikasi massa. Dia berdiplomasi dengan tangan dingin seorang dokter. Tapi ceria dengan pantun kemantun.
