Dalam limit waktu 6 jam sejak bergerak dari Kota Pontianak, kami sudah tiba di Balai Karangan. Kami inap di Hotel Prambanan. Prambanan ini hotel satu-satunya yang paling refresentatif. Adapun hotellainnya dalam kondisi “hidup segan, mati tak mau”. Harap maklum. Kondisi level kecamatan.
Hotel Prambanan penuh. Syukurnya BNPP sudah order lebih awal. Sungguh pun demikian, kami hanya dapat tiga kamar. Agus, saya dan kameramen Huntung Dwiyani, terpaksa inap dalam satu kamar. Bisnis penginapan adalah sisi lain ekonomi perbatasan yang menarik. Siapa yang merawat fasilitas penginapannya dengan baik dan professional, maka di sinilah tamu pilih istirahat dengan nyaman.
***
Saya, Huntung dan Agus menginap di lantai dua. Posisi strategis berhadapan dengan jalan raya. Kamar ini seperti kamar hotel lainnya memiliki pesawat tivi, pendingin ruangan, dan handuk plus pasta gigi.
“Inilah kondisi terbaik yang bisa kita pakai,” kata Agus. Saya sepakat, karena kerap kali liputan di kecamatan-kecamatan, “Bisa tidur dengan normal pun sudah Alhamdulillah Mas,” kata saya. Meliput mesti siap dalam situasi apapun. Termasuk meliput bencana seperti gempa, tsunami, banjir dan lain-lain. Kita mesti siap. Hatta, tidur di pelataran mesjid atau tenda sekalipun. Biasa.
